Sunday, December 23, 2012

Sedekah dan Keikhlasan (bagian 1)

Oleh : Dwi Puspa Indriani

sumber gambar : http://bloggers.com/post/haruskah-memberi-sedekah-7155179


Alkisah ada seorang pemuda yang ingin bersedekah. Ia menabung selama setahun dan kemudian di suatu malam ia berikan hasil tabungannyanya itu pada seseorang yang tidak dikenalnya. Keesokan harinya ia baru tahu bahwa orang yang ia beri ternyata seorang pelacur. Hatinya agak menyesal karena merasa « salah » orang. 
Kemudian dia berikhtiar untuk manabung lagi. Setelah terkumpul, ia berikan pada seorang laki-laki yang (menurutnya) miskin karena tampilannya yang lusuh. Keesokan harinya ia baru tahu bahwa ternyata lelaki itu adalah seorang pencuri. Kembali ia bersedih karena salah orang (lagi).
Tak menyerah, ia pun kembali menabung dan bersedekah. Kali ini ia bersedekah pada seorang kakek yang (menurutnya) lemah. Lagi-lagi ia harus kecewa, karena ternyata kakek itu adalah seorang yang kaya dan terkenal kekikirannya. Akhirnya ia pun menyerah, ia serahkan semuanya pada Allah. Singkat cerita, beberapa puluh tahun kemudian ia baru tahu bahwa Allah menyimpan hikmah yang luar biasa di balik sedekah (yang menurutnya) salah sasaran. Orang-orang yang menerima sedekahnya telah mendapat hidayah. Si pelacur itu insaf, bahkan anak-anaknya mengelola sebuah ponpes besar. Si pencuri itu akhirnya pun insaf dan menjadi seorang waliyullah. Dan si kakek itu pun mendermakan hartanya.
Subhanalloh… betapa Allah berkuasa untuk memberikan balasan terbaik atas sebuah keikhlasan.
Baca cerita selengkapnya di sini : http://wongirengmanis.blogspot.be/2012/02/dahsyatnya-sedekah-dengan-ikhlas.html

Setidaknya ada dua hal utama yang terkandung dalam cerita ini yaitu ‘ sedekah dan keikhlasan’.


Apakah bersedekah dianjurkan dalam Islam?

‘ Sedekah’ sangat dianjurkan oleh Allah SWT dan Rasulullah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai seorang muslim. Sebagaimana tercantum dalam beberapa ayat Al Qur’an :

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), MAKA ALLAH MELIPAT-GANDAKAN PEMBAYARAN KEPADANYA DENGAN LIPAT GANDA YANG BANYAK. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.(QS. Al Baqarah : 245)

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: Seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
(Q S. Al Baqarah : 261)

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
(QS. Al Baqarah : 274).


Apakah definisi dan perbedaan antara zakat, infaq dan sedekah?

Kata-kata zakat, infaq dan sedekah adalah kosa kata yang tidak asing terdengar di telinga kita bahkan sering diucapkan yang kadang ada diantara kita tanpa disadari apakah kata-kata tersebut telah tepat penempatannya? Mari kita coba uraikan…
Dirujuk dari penjelasan sebagian besar ulama, definisi zakat, infaq dan sedekah adalah sebagai berikut;
a) Sedekah berasal dari kata shadaqa yang berarti benar. Shadaqah ialah segala bentuk nilai kebajikan yang tidak terikat oleh jumlah, waktu dan juga yang tidak terbatas pada materi tetapi juga dapat dalam bentuk non materi, misalnya menyingkirkan rintangan di jalan, menuntun orang yang buta, memberikan senyuman dan wajah yang manis kepada saudaranya, menyalurkan syahwatnya pada istri, dsb. Dan shadaqoh adalah ungkapan kejujuran (shiddiq) iman seseorang.
Dalam hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Dzar, Rasulullah menyatakan bahwa jika tidak mampu bersedekah dengan harta, maka membaca tasbih, takbir, tahmid, tahlil, berhubungan suami-istri, atau melakukan kegiatan amar ma’ruf nahi munkar adalah bernilai sedekah. Dalam hadist ini, Rasulullah memberi jawaban kepada orang-orang miskin yang cemburu terhadap orang kaya yang banyak bershadaqah dengan hartanya, beliau bersabda: "Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap takbir shadaqah, setiap tahmid shadaqah, setiap amar ma’ruf adalah shadaqah, nahi munkar shadaqah dan menyalurkan syahwatnya kepada istri shadaqah". (HR. Muslim)
b) Zakat secara bahasa (lughat), berarti : tumbuh; berkembang dan berkah (HR. At-Tirmidzi) atau dapat pula berarti membersihkan atau mensucikan (QS. At-Taubah : 10). Seorang yang membayar zakat karena keimanannya niscaya akan memperoleh kebaikan yang banyak. Allah SWT berfirman : "Pungutlah zakat dari sebagian kekayaan mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.". (QS : At-Taubah : 103). Sedangkan menurut terminologi syari’ah (istilah syara’) zakat berarti kewajiban atas harta atau kewajiban atas sejumlah harta tertentu untuk kelompok tertentu dalam waktu tertentu.
Zakat juga berarti derma yang telah ditetapkan jenis, jumlah, dan waktu suatu kekayaan atau harta yang wajib diserahkan; dan pendayagunaannya pun ditentukan pula, yaitu dari umat Islam untuk umat Islam. Atau Zakat adalah nama dari sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syarat tertentu (nishab) yang diwajibkan Allah SWT untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula (QS. 9:103 dan QS. 30:39).
c) Infaq berasal dari kata anfaqa yang berarti mengeluarkan sesuatu (harta) untuk kepentingan sesuatu. Menurut terminologi syariat, infaq berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan/penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan Islam. Jika zakat ada nishabnya, infaq tidak mengenal nishab. Infaq dikeluarkan setiap orang yang beriman, baik yang berpenghasilan tinggi maupun rendah, apakah ia di saat lapang maupun sempit (QS. 3:134). Jika zakat harus diberikan pada mustahik tertentu (8 asnaf), maka infaq boleh diberikan kepada siapapun. Misalnya, untuk kedua orang tua, anak-yatim, dan sebagainya (QS. 2:215).
Infaq adalah pengeluaran sukarela yang di lakukan seseorang, setiap kali ia memperoleh rizki, sebanyak yang ia kehendakinya. Allah memberi kebebasan kepada pemiliknya untuk menentukan jenis harta, berapa jumlah yang yang sebaiknya diserahkan.
Terkait dengan infaq ini Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim ada malaikat yang senantiasa berdo’a setiap pagi dan sore : "Ya Allah SWT berilah orang yang berinfak, gantinya. Dan berkata yang lain : "Ya Allah jadikanlah orang yang menahan infak, kehancuran". (HR. Bukhori)
Dari definisi tersebut, kita dapat melihat persamaan dan perbedaan dari zakat, infaq dan sedekah.


Zakat
Infaq
Sedekah
Persamaan :



Adalah sesuatu (yang baik) yang dikeluarkan
Ya
Ya
Ya
Bertujuan untuk mengharap ridla Allah SWT
Ya
Ya
Ya
Perbedaan :



Hukum dasarnya
Wajib
Sunnah
Sunnah
Ditentukan nisab/batasan jumlah harta dan besarnya jumlah yang dikeluarkan
Ya
Tidak
Tidak
Ditentukan siapa saja yang berhak menerimanya
Ya
Tidak
Tidak
Sifatnya
Materiil
Materiil
Materiil dan non Materiil


Apakah hukum bersedekah?

1.      Sunnah , para fuqaha sepakat hukum sedekah pada dasarnya berpahala bila dilakukan dan tidak berdosa jika tidak dilakukan.
2.     Haram, jika dalam kasus seseorang yang bersedekah mengetahui pasti bahwa orang yang bakal menerima sedekah tersebut akan menggunakan harta sedekah untuk kemaksiatan.
3.    Wajib, yaitu ketika seseorang bertemu dengan orang lain yang sedang kelaparan hingga dapat mengancam keselamatan jiwanya, sementara dia mempunyai makanan yang lebih dari apa yang diperlukan saat itu. Hukum sedekah juga menjadi wajib jika seseorang bernazar hendak bersedekah kepada seseorang atau lembaga. Hal ini berdosa jika ditinggalkan.

berlanjut ke bagian kedua...

Friday, May 4, 2012

Kue Lumpur Kentang


 
oleh : Putriningsih Peter*


Bahan :
- 6 Kuning telur ( aku tadi paké 5 telur komplit )
- 2 Putih telur
- 300 gram Gula pasir
- 500 gram Kentang tes, kukus, haluskan ( aku langsung campur disini butternya, jadi langsung cair karena kentang masih panas )
- 200 gram Tepung terigu
- 200 cc Santan ( aku paké 250 cc santan )
- 75 cc Susu cair ( aku paké 25 cc susu cair )
- 150 gram Butter, cairkan
- 1 buah Kelapa muda 1 buah, kerok
- 100 gram Kismis / Kurma (dipotong kotak-kotak kecil)

Cara membuat :
1. Kocok kuning telur, putih telur dan gula hingga mengembang.
2. Masukkan kentang halus, terigu, santan, dan susu cair. Aduk rata.
3. Masukkan butter cair, aduk rata.
4. Panaskan cetakan kue lumpur kemudian tuang adonan kedalam cetakan kue lumpur.
5. Setengah matang masukan kelapa muda dan kismis/kurma.
6. Masak sampai matang lalu angkat.
7. Kue siap disajikan.


Jajanan pasar....hmmmmm.....selalu bikin kangen....dicoba yuukkkk....!!!!!!

*Resep ala Mbak Putriningsih ini adalah hasil (sedikit) modifikasi dari Resep Keluarga jatmiko

Thursday, April 26, 2012

99 Cahaya di Langit Eropa



Judul buku : 99 Cahaya di Langit Eropa - Perjalanan Menapaki Jejak Islam di Eropa


Penulis : Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra

Jumlah Halaman : 412 halaman

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Cetakan I, 2011

Secara garis besar, buku ini berisi kisah perjalanan yang dialami oleh seorang Hanum Rais dan suaminya selama tinggal di Eropa. Si penulis menceritakan seluruh perjalanannya dalam menjelajahi negara Austria, Prancis, Spanyol, dan Turki, dengan bahasa yang ringan namun sarat akan hikmah dan pelajaran sejarah yang berarti. Banyak informasi baru yang saya dapatkan dari buku ini, seperti deskripsi gaya arsitektur gothic dan baroque gereja, serta asal bunga Tulip dan cappuccino yang ternyata berasal dari Turki. Belajar sejarah tidak harus melalui buku teks yang kering atau menjemukan, dan saya menemukannya dalam buku ini.

Kisahnya bermula dari persahabatan Hanum dengan seorang wanita Turki bernama Fatma di kelas bahasa yang ia ikuti di Vienna, Austria. Dari wanita inilah ia kemudian menemukan banyak hal tentang ketulusan hati dan figur muslim yang baik di tengah sekulerisme Eropa. Bukan hanya ketulusan, namun juga ironi, termasuk mengenai keberadaan Vienna Islamic Centre yang terletak di samping Sungai Danube, lokasi yang sering dipergunakan oleh orang setempat untuk melakukan tindakan yang "tidak baik". Namun di sisi lain ternyata ironi ini membawa keberkahan tersendiri bagi masyarakat sekitarnya. Banyak orang yang pada akhirnya justru tertarik untuk semakin belajar mengenai Islam ke tempat ini, sehingga keberadaan Islamic Center ini tetap dipertahankan. Begitulah penuturan Imam Hashim imam masjid tersebut kepada Hanum. Perkenalannya dengan Imam ini pula yang menjadi gerbang pertemuannya dengan seorang Muslimah Prancis, Marion lulusan studi Islam Abad Pertengahan Sorbonne University Prancis.

Marion, seorang mualaf yang memiliki banyak pengetahuan, menunjukkan kepada Hanum tempat-tempat di Paris, yang lebih menarik dibandingkan dengan Eiffel atau Louvre. Selain itu, Ia pun menceritakan mengenai misteri yang ada di kota Paris seperti status kemusliman Napoleon Bonaparte, fenomena satu garis bangunan (Axe Historique) antara air mancur besar, monument obelisk Mesir, jalan Champs-Elysees, monument Arc de Triomphe, yang menghadap ke arah ka’bah. Dari Marion pula Hanum mengetahui tentang kalimat tauhid dalam bentuk tulisan Arab Kuffic, yang ada di lukisan Bunda Maria Ugolino.



Tulisan Arab Kuffic merupakan tiruan dari tulisan Arab, yang saat itu menjadi salah satu simbol kemajuan peradaban di dunia.

Ketika membaca mengenai misteri yang ada di balik kota Paris, ada sebersit keraguan yang mampir di benak saya. Benarkah ini, atau hanya sekedar teori konspirasi biasa yang berusaha mengagungkan Islam namun salah tempat. Begitu pula yang dirasakan oleh Hanum ketika mendengarkan penuturan Marion. Well, wallahua’lam..hanya Allah yang Maha Mengetahui tentang hal ini memang.

Namun perkara kedigdayaan peradaban Islam di Abad Pertengahan Eropa (yang tidak ingin disebut Abad Kegelapan) merupakan suatu perkara yang tidak dapat dielakkan. Semua bangsa pasti tidak bisa menolaknya. Di masa ketika Galileo Galilei dihukum pancung, karena pendapatnya yang bertentangan dengan pendapat gereja bahwa bumi adalah pusat tata surya, Ibnu Haitsam telah terlebih dahulu menemukan kamera. Dan masih banyak lagi ilmuwan Islam yang lahir di zaman itu, yang kini menjadi rujukan ilmuwan di Barat dan Timur. Islam pernah menjadi sumber cahaya yang menerangi Eropa yang saat itu diliputi kegelapan.

Banyak di antara umat Islam kini yang tidak lagi mengenali sejarah kebesaran Islam pada masa lalu. Tidak banyak yang tahu bahwa luas teritori kekhalifahan Umayyah hampir 2 kali lebih besar daripada wilayah kekaisaran Roma di bawah Julius Caesar. Tidak banyak yang tahu pula bahwa peradaban Islam lah yang memperkenalkan Eropa pada Aristoteles, Plato, dan Socrates, serta akhirnya meniupkan angin renaissance bagi kemajuan Eropa saat ini. Cordoba, ibu kota kekhalifahan Islam di Spanyol, pernah menjadi pusat peradaban pengetahuan dunia, yang membuat Paris dan London beriri hati (halaman 5)

Kota Cordoba dan Granada pernah menjadi saksi kejayaan peradaban Islam dulu. Hanum menggambarkannya melalui deskripsi bangunan Taman Generalife dan Istana Nasrid dalam komplek Alhambra yang indah. Namun juga ironi keruntuhannya, melalui ilustrasi Benteng Alcazar yang menjadi tempat penyerahan kekuasaan dari Sultan Boabdil kepada Isabela-Ferdinand; dan juga sejarah Katedral Mezquita. Cordoba pernah menjadi pusat peradaban Islam dulu, dan Granada menjadi kota terakhir yang dimilikinya sebelum akhirnya berpindah tangan ke Kerajaan Spanyol. Dan kini, jejak Islam hampir hilang tak berbekas dari tanah Spanyol. Jika melihat sisa peninggalan di Sevilla dan Barcelona sekarang, mata kita akan disuguhi gambaran kekuatan penjelajahan samudera Kerajaan Spanyol, seperti yang pernah dilakukan Vasco da Gama dalam menemukan Semenanjung Harapan dan Columbus ketika menemukan Amerika. Padahal Umat Islam dulu adalah traveler yang tangguh, jauh ratusan tahun sebelum Vasco da Gama menemukan Semenanjung Harapan.

Islam datang dengan damai dalam semangat convivencia, semangat persatuan dalam perbedaan. Pada masa keemasannya, ketiga agama yang berbeda (Nasrani, Yahudi, dan Islam) dapat hidup secara berdampingan. Hal ini dituturkan Hanum melalui sejarah arah mimbar yang dimiliki Mezquita Cordoba. Sebenarnya mimbar yang dimiliki Mezquita tidak langsung menghadap ke arah ka’bah. Masih harus digeser sedikit lagi ke arah tenggara untuk mendapatkan posisi yang tepat. Namun jika ingin mengubah arah mimbar, gereja kecil yang terletak di dekat Mezquita harus dirobohkan, dan Sultan yang berkuasa saat itu tidak menghendaki hal tersebut karena dapat mengganggu kedamaian peribadatan umat lain. Akhirnya saat itu (dan hingga saat ini) mimbar Mezquita tidak menghadap kiblat, sehingga dulu kaum Muslim jika ingin beribadah harus menggeser posisinya sedikit ke tenggara. Begitupula Yahudi dibiarkan beribadah dengan tenang. Kita masih dapat melihat sisa perkampungan dan sinagog Yahudi, yang terletak dekat Mezquita, hingga sekarang.

Namun sayangnya, amanat hidup damai tiga agama pada peradaban Islam, tidak dilanjutkan pada masa Kerajaan Spanyol. Sepuluh tahun setelah Isabel-Ferdinand memegang tampuk kekuasaannya, Kerajaan ini melakukan pembaptisan massal pada seluruh warganya, dan mengakibatkan gambaran peradaban Islam serta agama lainnya putus dari rantai sejarah Spanyol.

Buku ini bukan hanya sekedar menggambarkan masa lalu yang gemilang dan kita menjadi terlena terhadapnya. Buku ini bukan hanya berpesan tentang romantisme masa lalu.

Those who don’t learn from history are doomed to repeat it (George Santayana)

Apa yang membuat Islam tersapu dari tanah Spanyol? Apa yang dapat kita pelajari dari masa lalu supaya kita tidak lagi terperosok dan mengulangi kesalahan yang sama di masa lampau. Islam dulu datang dengan kedamaian dan megah dengan kebijakan, ilmu pengetahuan, dan teknologi, serta sistem kehidupan yang menentramkan. Kini Islam harus kembali datang, walaupun belum dalam bentuk peradaban, dengan misi yang sama yaitu rahmatan lil ‘alamin.

Peradaban Islam dulu hancur ketika yang muncul adalah ketamakan dan keegoisan. Hal ini digambarkan Hanum dalam kisah kekalahan besar yang dialami oleh Kara Mustafa Pasha, panglima Kekhalifahan Utsmani (Turki Ottoman) saat akan menaklukan Vienna. Turki Ottoman dipukul mundur oleh koalisi Austria, Jerman, dan Polandia. Sumber utama kekalahan itu adalah karena niat yang salah dari sang panglima perang, yang melakukan penyerangan semata-mata hanya untuk penaklukan yang penuh dengan kesombongan. Hingga kini, warga Austria mengenang sang panglima sebagai pembunuh yang telah memporakporandakan Vienna, dan kebencian terhadap Turki disimbolkan dengan bentuk roti croissant.

Eropa bukan hanya tempat untuk berwisata atau untuk mencari ilmu pengetahuan semata. Banyak pelajaran kehidupan yang bisa digali dari tempat ini, dan itulah yang ingin saya cari selama perjalanan 10 bulan ini. Saya ingin melihat realitas sejarah, dan mengambil banyak pelajaran dari itu. Bukan hanya untuk pergi berwisata ke tempat yang menarik dikunjungi dengan biaya semurah-murahnya. Tidak munafik memang, semua pasti ingin untuk berfoto di tempat-tempat wisata Eropa dan membeli sedikit oleh-oleh dari sana. Namun ada misi lain yang ingin saya tuju, yaitu untuk memperluas wawasan dan memperdalam keimanan. Selama kurang lebih 6 bulan saya tinggal di sini, saya mencoba belajar membuka mata dan hati tentang realitas yang selama ini mungkin tidak pernah saya sentuh. Saya belajar menerima hal-hal baru, dengan tetap merefleksikannya pada keimanan. Belajar untuk mencari hikmah dalam setiap perjalanan. Belajar untuk menjadi pribadi yang kuat dan bijak. Yang kuat menahan diri, mengalah bukan karena kalah tetapi mengalah karena sudah memetik kemenangan hakiki. Di sini saya kembali merenungkan tentang makna dan tujuan hidup. Dan saya makin menyadari ada masih banyak misteri tentang Islam yang masih terkubur di benua ini dan belum tersingkap. Ya masih banyak..

Esensi sejarah bukanlah hanya siapa yang menang dan siapa yang kalah. Lebih dari itu : siapa yang lebih cepat belajar dari kemenangan dan kekalahan.

“Pergilah, jelajahilah dunia, lihatlah dan carilah kebenaran dan rahasia-rahasia hidup; niscaya jalan apa pun yang kaupilih akan mengantarkanmu menuju titik awal. Sumber kebenaran dan rahasia hidup akan kautemukan di titik nol perjalananmu. Perjalanan panjangmu tidak akan mengantarkanmu ke ujung jalan, justru akan membawamu kembali ke titik permulaan. Pergilah untuk kembali, mengembaralah untuk menemukan jalan pulang. Sejauh apa pun kakimu melangkah, engkau pasti akan kembali ke titik awal” (The Alchemist-Paulo Coelho)

Semoga Allah senantiasa meluruskan niat saya, dan segera mempertemukan dengan apa yang saya cari.

Sunday, February 26, 2012

Meneladani Ibunda Fathimah Az Zahra


sumber gambar : dari sini


Oleh : Mutiara Indriani Wibowo

Beliau adalah putri bungsu dari Rasulullah, istri dari wali Allah swt Imam Ali, dan ibunda dari Hassan dan Husain. Perilaku beliau patut untuk diteladani dan dicermati oleh para wanita muslim, terutama bagi kita semua yang bersama-sama dalam langkah menuju kesempurnaan yang hakiki.

Penampilan terbaik Fathimah Az Zahra adalah ketika beliau beribadah. Ketika beliau bersujud dan rukuk dalam mimbarnya, cahayanya menerangi penduduk langit sebagaimana cahaya bintang-bintang menerangi penduduk bumi. Sebutan Az-Zahra melekat pada dirinya, karena cahaya yang dipancarkan oleh wajahnya pada Imam Ali di tiga waktu: di pagi hari laksana mentari, siang bagaikan rembulan dan sore hari ibarat bintang.

Setiap muslimah yang ingin mendapatkan cinta sejati dari Allah swt, tips nya adalah dengan mencintai ibunda Fathimah Az Zahra. Munculah pertanyaan-pertanyaan di benak saya. Bagaimana saya dapat mencintai ibunda Fathimah Az Zahra, sedangkan beliau telah tiada? Dapatkah saya mencintai seseorang yang belum pernah saya lihat, sentuh dan pegang sebelumnya?

Sebelumnya, saya ingin berbagi tentang besarnya kecintaan Rasulullah dan Allah swt terhadap ibunda Fathimah Az-Zahra. Dalam hal ini, Nabi Muhammad saw bersabda, “Putriku Fathimah az Zahra adalah wanita termulia di dunia dari wanita terdahulu dan akan datang. Ia adalah belahan jiwaku, cahaya mataku, buah hatiku dan jiwaku yang berada diantara dua pundakku. Ia adalah bidadari dalam benak manusia. Ketika ia berada di mihrabnya untuk beribadah pada Tuhannya, saat itulah Allah Yang Mahatinggi berfirman pada para malaikat-Nya, ‘Wahai para malaikat-Ku, lihat dan perhatikan hamba-Ku, Fathimah, penghulu para hamba-Ku yang sedang menghadap pada-Ku. Anggota tubuhnya bergetar karena takut pada-Ku dan dengan seluruh jiwa dan raganya, ia beribadah pada-Ku. Kalian menjadi saksi bahwa pengikutnya akan aku selamatkan dari api neraka”.

Besarnya cinta Allah swt pada ibunda Fathimah Az-Zahra tidak ayal lagi, merupakan cerminan dari tingginya tingkat spiritualitas yang dimiliki oleh Ibunda Fathimah Az-Zahra. Beliau seorang hamba suci, yang senantiasa ikhlas kepada Allah swt. Selalu berupaya agar setiap perbuatan dan perilakunya berada dalam jalan menuju kesempurnaan, manusia yang memahami dan dalam lindungan keikhlasan, serta terlepas dari beban belengu.

Allamah Majlisi pernah bersabda, “Fathimah adalah penghulu para wanita di alam raya baik yang terdahulu maupun yang akan datang. Ketika ia beribadah di mihrabnya, 70 ribu malaikat menyampaikan salam padanya… dan berkata, ‘Wahai Fathimah, sesungguhnya Allah telah memilikimu, munyucikanmu, dan memuliakanmu dari wanita-wanita di dunia.”

Sehingga, dalam mengimani Allah swt sebaiknya saya tidak terlepas dari upaya mengimani ibunda Fathimah Az-Zahra. Beliau adalah pemberi syafaat bagi para pengikutnya, beliau adalah Muhaddatsah, yang diajak berbicara oleh Malaikat.

Abu Said al Khudri berkata, “Saat itu kami duduk bersama Rasulullah saw., seorang laki-laki dari jauh datang menghampiri Rasulullah saw dan memintanya untuk menjelaskan sebuah ayat yang berbunyi: istakbarat am mana minal alin. ‘Siapa mereka yang lebih mulia dan lebih tinggi ketimbang malaikat?’ Rasulullah saw. Bersabda, ‘Mereka adalah aku, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain yang berada di sisi arasy. Kami bertasbih dua ribu tahun sebelum Allah swt menciptakan Adam as. Dan para malaikat bertasbih dengan tasbih kami di saat Allah SWT menciptakan Adam as. Tidaklah mereka diperintahkan untuk bersujud kecuali karena kami… Oleh karena itu, kamilah pintu Allah SWT dan yang masuk melaluinya adalah orang yang mendapat petunjuk dikarenakan kami. Siapa yang mencintai kami, Allah akan mencintainya dan memasukkannya ke surga-Nya.. “

Dengan demikian, sudah pasti dan tidak dapat dipungkiri, bahwa satu-satunya jalan untuk masuk kedalam surga Allah swt adalah dengan mengikuti “petunjuk-petunjuk”-Nya dimuka bumi, salah satu “petunjuk”-Nya bagi kita kaum wanita muslimin yaitu Ibunda Fathimah.

Ketinggian level spiritual Ibunda Fathimah Az-Zahra adalah yang maksimal. Saya sebagai kaum awam tidaklah mungkin mencapai ketinggian level spiritualitas tersebut, dimana jiwanya telah ia pasrahkan pada kecintaan kepada Allah SWT. Ibunda Fathimah adalah pecinta sholat sampai kakinya memar-memar dan napasnya tersengal-sengal ketika sholat karena rasa takutnya. Keimanan seperti inilah yang membuatnya tentram, sebagaimana Allamah Thabathaba’I berkata: “Pada hakikatnya, manusia merasakan ketentraman diri kala menerima hal-hal yang dapat diterima. Hatinya akan tentram dengan hal itu. Dalam ketenangan dan ketentraman, manusia akan dapat berpikir dengan baik, dan dapat mengambil keputusan dengan benar. Ini adalah rahasia mengapa tidak ada kecemasan dalam diri Fathimah Az-Zahra dalam menghadapi gelombang kehidupan”.

Pada akhirnya, saya berkesimpulan bahwa untuk mencintai Ibunda Fathimah Az-Zahra, saya sebaiknya memahami dan belajar mencinta apa-apa yang dicintai oleh beliau. Teman-teman masih ingat kan, ketika kamu jatuh cinta pada seseorang dan berusaha menarik perhatiannya dengan pura-pura mencintai apa yang dicintainya? Iya kan? Bagaimana saya yang sama sekali tidak mengerti pertandingan sepak bola berpura-pura mengerti jalannya permainan, dan sangat heboh ketika tim kesayangan suami berhasil mencetak gol. Namun seiring berjalannya waktu, saya menjadi terbiasa menemani suami menonton pertandingan bola dan menjadi pendengar yang baik, sehingga sekarang saya bisa mengerti dan menikmati permainan bola. Sehingga untuk semakin dicintai oleh Allah SWT, sebaiknya cinta saya semakin menjadi-jadi kepada ibunda Fathimah Az-Zahra. Sehingga untuk meningkatkan level cinta saya kepada ibunda Fathimah Az-Zahra, sebaiknya saya lebih mencintai beribadah, lebih meningkatkan kualitas dan kuantitasnya.

Saya dapat memulai dari hal-hal yang beliau lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, memakai wewangian ketika sholat, memperlama ruku, berdiri dan sujud, menangis, berdialog dengan lembut dan mengadu kepada Allah SWT, menghidupi sepertiga malam terakhir dengan tahajud, memuliakan dan mengutamakan tetangga, sholat di malam pengantin, mengingat-ingat beliau (sebagaimana saya mengingat-ingat pacar yang sekarang sudah jadi suami), serta berupaya mendidik dan membimbing masyarakat ke jalan Allah SWT. Semoga kita bisa semakin mencintai ibunda Fathimah Az Zahra dengan meneladani beliau . (Disarikan dari buku “Salat dan Amalan Fathimah az Zahra” karangan Abbas Azizi).