Monday, June 27, 2011

Bagaimanakah SHOLAT kita?


(sebuah refleksi Rajab 1432 H)

Allahu akbar Allahu akbar
Allahu akbar Allahu akbar

Suara adzan kembali mengalun lembut di telinga...
menyeru setiap hamba untuk kembali bersujud pada-Nya...

Sholat adalah suatu ibadah yang menjadi bagian dari rukun Islam. Rukun islam yang kedua. Sholat juga disebut sebagai tiang agama.

“Shalat adalah tiang agama,
barang siapa yang mengerjakannya berarti ia menegakkan agama, dan
barang siapa meninggalkannya berarti ia meruntuhkan agama” (HR. Baihaqi)


Bahkan sholat pun bisa menjadi pembeda antara orang mukmin dan orang kafir.

“Batas antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

Bagi sebagian dari kita, ibadah sholat adalah ibadah yang diperkenalkan oleh kedua orang tua kita sejak kita masih kecil. Dengan usia yang semakin dewasa, sepertinya sudah ratusan...bahkan ribuan kali kita mengerjakannya. Dalam sehari saja, kita wajib melaksanakan sholat 5 waktu. Apalagi kalau ditambah sholat sunnah, seperti sholat sunnah rowatib, sholat dhuha, sholat witir, sholat tahajjud, dan sholat-sholat sunnah lainnya. Jumlahnya pasti sudah tak terhitung lagi. Akan tetapi, sudahkan sholat kita benar? sudahkah sholat kita bermakna? sudahkah sholat kita berbekas?

Apakah sholat kita sudah benar?

Sholat itu merupakan suatu ibadah yang terdiri dari rangkaian gerakan yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Ritual sholat yang kita lakukan hendaknya mencontoh apa yang telah dilakukan Rasulullah SAW.

"Sholatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku sholat " (HR Ahmad dan Bukhari dari Malik bin al-Huwairits)

Ritual yang dimaksud adalah tata cara pelaksanaan ibadah sholatnya (fiqh sholat), mencakup syarat, rukun/gerakan, jumlah roka'at, dan waktu pelaksanaannya.

Dalam hal ritual ini, kita tidak boleh merubahnya semau kita. Misalnya, sholat shubuh yang "hanya" 2 roka'at, kita jadikan 4 roka'at, karena kita ingin menambah pahala. Padahal, yang ada malah dosa...bukan pahala. Kalaupun ada sholat yang bisa kita ringkas (dikenal dengan qashar), dari 4 roka'at menjadi 2 roka'at (kecuali maghrib, tetap 3 roka'at), ada beberapa ketentuan yang menyertai (misal. kita sedang dalam perjalanan).

Dari Ibnu Umar, r.a, berkata: 'Pernah saya menemani Nabi Saw dan
sholat beliau dalam perjalanan tidak lebih dari dua raka'at' "(HR Bukhari)


Begitu juga dengan waktu sholat. Kita tak boleh menggeser-geser waktunya. Dengan alasan capek, malas, ada keperluan, atau apapun. Nah, bagaimana dengan pelaksanaan sholat jama' (menggabungkan pelaksanaan dua sholat ke dalam satu waktu sholat)? Kalau yang ini, tentu saja boleh, asal sesuai dengan aturan dan kondisinya. Begitu juga, bagi yang tidak mampu melaksanakan sholat dengan berdiri, boleh dengan duduk, dan seterusnya.

Dari 'Ali, r.a, katanya : bersabda Nabi Saw : 'Sholatlah orang yang sakit dengan berdiri jika ia bisa;
bila tidak mampu maka sholatlah dengan duduk; jika tidak mampu untuk sujud, isyaratkan saja dengan kepala;
dan dijadikannya sujudnya itu lebih rendah dari ruku'nya;
jika tidak mampu sholat duduk, maka sholatlah sambil berbaring ke kanan serta menghadap kiblat;
jika tidak mampu juga maka sholatlah dengan menelentang; sedang kedua kakinya membujur ke arah kiblat' -
(HR Daruquthni)


Kalau kita amati, ada beberapa kemudahan (keringanan) yang Allah berikan agar kita tetap bisa melaksanakan ibadah ini. Sudahkah ini kita pahami sebagai tanda bahwa sholat adalah ibadah yang utama?

Apakah sholat kita bermakna?

Makna secara bahasa dari sholat adalah berdo'a. Hal itu dapat dilihat dari apa saja yang kita baca selama sholat. Sholat adalah sebuah sarana / bentuk komunikasi secara langsung seorang hamba dengan Rabb-nya.

"Sesungguhnya Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku,
maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku. " (QS Thahaa 14)


Nah, untuk menjadikan sholat kita penuh makna...tentu syaratnya adalah kita memperhatikan fiqh sholatnya, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Tidak hanya dengan itu, kita pun harus melaksanakannya dengan penuh kekhusyukan. Khusyu' ini memang bukan sesuatu perkara yang mudah, tapi penting.

Dari Utsman berkata,”Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,
”Tidaklah seorang muslim mendatangi shalat wajib lalu membaguskan wudhu, khsuyu dan ruku’nya kecuali ia menjadi pelebur dosa-dosanya yang lalu kecuali dosa besar. Dan itu berlaku sepanjang masa.” (HR. Muslim)


Al Qurthubi menyebutkan bahwa khusyu' adalah suasana di dalam jiwa yang tertampakkan pada anggota tubuhnya berupa ketenangan dan ketundukan. Hmm...subhanalloh, khusyu' itu sungguh sebuah anugerah bagi setiap mukmin yang mau berusaha.

Bagaimana meraihnya? Ada banyak tips yang disampaikan dari para ulama' dan salafush shalih. Secara umum bisa disimpulkan bahwa kiat untuk menumbuhkan kekhusyukan dalam sholat adalah : meluruskan niat bahwa sholat yang didirikan hanya untuk Allah saja, konsentrasi (tidak memikirkan hal yang lain), merasakan kehadiran Allah, mentadabburi bacaan sholat (mengerti dan memahami maknanya), dan menikmati setiap gerakan sholat (tidak terburu-buru). Insya Allah dengan begitu, kita akan dapat melaksanakan ibadah sholat dengan khusyu.

"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) yang khusyu dalam sholatnya." (QS Al Mu'minun 1-2)

Apakah sholat kita berbekas?

Yang dimaksud "bekas" di sini adalah bukan saja bekas hitam di dahi kita karena bekas sujud. Tetapi, makna yang lebih dalam lagi. Yaitu, bekas sholat dalam kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana bisa?

Sayyid Quthb menjelaskan bahwa pada dasarnya shalat adalah hubungan antara hamba dan Tuhannya yang dapat menguatkan hati, membekali keyakinan untuk menghadapi segala kenyataan yang harus dilalui.

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan cara bersabar dan melakukan shalat.
Dan (shalat) itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu.”
(QS Al Baqarah 45)


Dalam prakteknya, implementasi ayat ini telah dicontohkan Rasulullah SAW.

Diriwayatkan dari Huzaifah ra , ia berkata:”Apabila Rasulullah saw menemui suatu kesulitan maka beliau selalu mengerjakan shalat (HR Ahmad, Abu Dawud-Durul Mantsur).

Jadi, sholat itu sendiri adalah solusi umat manusia dalam menjalani hidup. Karena sholat adalah cara kita untuk meminta pertolongan pada Dzat yang Maha Hidup dan yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab (Al Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (sholat) adalah lebih besar (keutamannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al Ankabut 45)

Inilah makna sosial dari sholat yang kita dirikan, dimana ia bisa membekas dalam diri (perilaku) kita. Sholat bisa menjadikan pelakunya, lebih bisa mengendalikan diri. Karena mereka yang mendirikan sholat dengan sempurna, senantiasa bisa mengingat Allah, merasakan pengawasan-Nya sebagai Dzat yang Maha Melihat. Mereka yang senantiasa mengingat Allah pun akan mendapatkan ketenangan hati.

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram." (QS Ar Ra'd 28)

Kesimpulannya adalah jika kita melihat masih banyak di antara kita yang suka STMJ (Sholat Terus, Maksiat Jalan), berarti kesempurnaan sholatnya masih dipertanyakan. Karena berarti "buah" dari sholat itu belum nampak pada dirinya. Oleh karena itu, mari kita terus berupaya menyempurnakan sholat kita, sehingga sholat kita dinilai sebagai ibadah yang BENAR, BERMAKNA, dan BERBEKAS.

Amal pertama yang dihisab dari seorang hamba di hari kiamat adalah shalat. Dan barangsiapa yang baik (diterima) shalatnya, maka baik (diterima) pula segala amalan yang lain, dan barangsiapa yang rusak (ditolak) shalatnya, maka rusak (ditolak) pula segala amalan lainnya” (HR Thabarani).

Semoga refleksi ini bisa menjadi pengingat diri sehingga kita akan semakin semangat dalam memperbaiki kualitas sholat kita.

Wallohu a'lam bish showab.

Saturday, June 11, 2011

Tiramisu ala Miya


oleh : Hamiyah Bodart

Bahan:

150gr tepung gula (bisa dikurangi atau ditambah sesuai selera, kalau suka manis atau tidak)
200ml atau 250ml double cream (crême fraiche)
500gr mascarpone cheese
1 bungkus vanilla
kopi kental
biskuit ladyfinger (boudoir)
coklat bubuk
loyang pyrex


Cara membuatnya:
-Masukkan gula, vanila crême fraiche dan mascarpone dalam wadah. Mixer sampai kental.
-Celup biskuit ke dalam kopi (harus cepat,jangan direndam lama biar tidak soggy), susun ke dalam loyang
-tutup dengan adonan cheese diatasnya sampai tertutup seluruhnya
-susun lagi biskuit diatasnya dan tutup dengan cheese sampai rata.
-taburi coklat bubuk diatasnya dan simpan di dalam lemari es.

Selamat menikmati!

Blackcurrant cheesecake





oleh : Hamiyah Bodart


Biscuit base:

* 300g digestive biscuits (crushed)
* 150g Unsalted butter (melted)

Cheesecake filling:

* 400g Philadelphia cream cheese -natural
* 200ml Cream (Crème fraîche)
* 200g Icing sugar
* 2 tbs lemon or lime juice

Topping:

* 1 can of Blackcurrant fruit filling



Directions:
Lelehkan mentega.
Hancurkan biscuits. Saya biasanya masukkan kedalam freezer bag lalu ditekan-tekan pakai ulekan.
Campurkan dengan mentega yang sudah dilelehkan. Aduk rata.
Masukkan ke dalam loyang apa saja menurut selera. Ratakan dan tekan-tekan.
Diamkan di dalam kulkas sampai benar-benar menyatu dan mengeras.
Campur gula halus/icing sugar, cream dan philadelphia cheese ke dalam mixing bowl.
Kocok dengan mixer sampai agak kental, masukkan beberapa lemon/lime juice (optional).
Kocok sampai benar-benar kental
Tuang adonan cheese ke atas base biscuits tadi.
Diamkan beberapa jam di dalam kulkas.
Terakhir tambahkan topping blackcurrents.

Voila!

Sunday, May 22, 2011

Anakku Cintailah Al Qur'an

Kenangan dari seorang ibu dari 13 anak, istri nan sholehah, pengabdi masyarakat yang bersahaja, pejuang yang tak kenal lelah, syahidah yang insyaAllah husnul khatimah....

Selamat jalan bunda Yoyoh Yusroh....

Ceramah beliau di Australia ini mudah-mudahan menjadi penyemangat para muslimah untuk senantiasa mencintai Al Qur'an




In Memoriam Ustadzah yoyoh Yusroh


Bagaimana menjadi ibu generasi?


Semoga kita dapat mengambil suri tauladan dari sosok seorang Yoyoh Yusroh, salah seorang ibu generasi....

Saturday, April 30, 2011

Resensi Buku : Sakinah Bersamamu

Judul Buku : Sakinah Bersamamu
Jenis Buku : Kumpulan Cerpen
Penulis : Asma Nadia (16 Cerpen), Galuh Chrysanti (1 cerpen)
Penerbit : AsmaNadia Publishing House
Cetakan : III, Januari 2011
Tebal : xii+344 halaman


Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek yang dilengkapi dengan ulasan menarik di setiap cerita. Membahas tentang berbagai kisah sehari-hari yang sangat menyentuh dan realistis. Berbagai babak kehidupan berumah tangga yang seringkali dilematis, rumit dan seakan tanpa solusi, dituangkan ke dalam cerita yang menggelitik, segar, tetapi tetap menyentuh. Setiap cerpen dilengkapi dengan pembahasan obyektif dalam memandang setiap masalah yang dialami tokoh-tokoh di dalamnya. Judul-judul 17 cerpen yang termuat di dalamnya adalah :
1. Rahasia Mas Danu - Bercerita mengenai perbedaan karakter suami dan isteri. Tentang suami yang tidak ekspresif sehingga menimbulkan kesalahpahaman isteri.
2. Mata yang Sederhana – Bercerita tentang pasangan yang telah lama berumah tangga, isterinya sangat setia, namun suami merasa kehilangan “feeling” karena isterinya tidak lagi memperhatikan penampilan.
3. Ngambek! – Menceritakan mengenai isteri yang merasa tidak dimengerti, dan suami yang kurang sensitif.
4. Dia dalam Mimpi-mimpi Rani – Bercerita mengenai seorang isteri yang terbayang-bayang lelaki di masa lalunya.
5. Bahagia Mutiara – Berkisah mengenai seorang wanita yang minder dan gamang dengan kesederhanaannya. Dihantui perasaan tidak ada yang bisa dibanggakan dari hidupnya, ia menjadi panik ketika ada undangan reuni dengan teman-teman sekolahnya dulu, yang diyakininya akan menjadi ajang saling pamer keberhasilan. Pada akhirnya ia menyadari bahwa kesederhanaannya yang penuh berkah lebih penting dari sekedar kaya secara materi.
6. Sejuta Kasih – Mengisahkan tentang seorang ibu yang diuji kesabarannya karena memiliki anak yang perkembangan mentalnya tidak sempurna, dan menyesal karena merasa kurang memberikan kasih sayangnya ketika kemudian amanah tersebut diambil kembali oleh-Nya.
7. Ibu Pergi Sebulan – Menceritakan tentang seorang ibu yang mengajari anaknya berbohong untuk menghindari tagihan tukang kredit. Kebohongan demi kebohongan, ternyata menimbulkan banyak masalah baru dan justru bertambah rumit.
8. Satu Kecupan – Berkisah tentang isteri yang dibakar cemburu saat suaminya tidak ada di sisinya. Gosip-gosip infotainment tentang perselingkuhan yang selalu diikutinya membuatnya menciptakan skenario yang heboh di dalam kepalanya, yang membuatnya semakin khawatir dan dibakar api cemburu . Hatinya jadi selalu was-was, apalagi suaminya sangat tampan. Ternyata faktanya tidaklah demikian, suaminya bukanlah seperti apa yang dicurigainya.
9. Nyonya Kokom dan Para Suami – Menceritakan tentang seorang wanita yang suka bergosip tentang kehidupan rumah tangga orang lain, dan tidak menyadari bahwa sebenarnya rumah tangganya sendiri juga bermasalah, tanpa dia menyadarinya.
10. Arti Bunda – Berkisah tentang seorang ibu rumah tangga, yang ketiga anaknya telah beranjak remaja, tiba-tiba ingin bekerja. Ia bosan karena selama ini hanya mengurus rumah tangga saja. Saat pekerjaan sudah mulai dijalaninya, ternyata ia agak kewalahan dan merindukan masa-masa saat dirinya hanya mengurus rumah saja. Namun demikian sisi positifnya adalah, anak-anak menjadi lebih mandiri dan menghargai betapa selama ini bunda mereka telah berperan sangat besar dalam rutinitas keseharian mereka. Dan mereka pun menyadari bahwa menjadi ibu rumahtangga adalah juga sebuah pekerjaan yang tidak ringan dan butuh profesionalitas.
11. Gaya-gaya Tante Erna – Menceritakan tentang seorang wanita paruh baya yang belum juga menikah. Dia sibuk dengan penampilan fisiknya. Merasa selalu saja ada yang harus diperbaiki. Dandanannya gonta-ganti secara ekstrem, segala jenis perawatan tubuh dilakoninnya. Sayangnya tidak ada yang mampu meluruskan pemikirannya, hingga pada akhirnya ia harus masuk RS karena infeksi akibat salah perawatan. Hal itulah yang menyadarkannya bahwa penampilan fisik tidak akan pernah sempurna tanpa hati yang selalu berpikir jernih dan lebih bijaksana. Pentingnya inner beauty agar kecantikan fisik terpancar.
12. Cerita Tiga Hari – Bercerita tentang seorang lelaki, supir bajaj yang kehidupan profesionalnya dihiasi dengan warna-warni godaan, pertemuan dengan bermacam karakter penumpangnya, yang seringkali membuatnya harus mengurut dada. Namun demikian, kehidupan rumah tangga sederhananya yang harmonis, penuh cinta dan dilandasi keimanan menjadikan kata “pulang ke rumah” selepas bekerja menjadi begitu indah.
13. Lelaki yang Selalu Sendiri – Mengisahkan tentang seorang lelaki yang nampak aneh dan memiliki dunia sendiri. Ternyata masa kecilnya yang berat menyisakan trauma berkepanjangan. Hingga berkeluarga dan memiliki tiga orang anak, dirinya masih selalu merasa belum bisa menjadi lelaki sejati. Keimanannyalah yang membuatnya tidak terjebak dalam dunia kemaksiatan meskipun kehidupan rumah tangganya tidak bahagia.
14. Saat Memaknai Cinta – Bercerita tentang seorang ibu yang kewalahan menghadapi bayinya yang susah diatur, hingga hilang kesabaran dan lupa bagaimana amanah itu seharusnya dijaga.
15. Dua Puluh Tahun Cinta – Menceritakan tentang dilema seorang isteri yang mendapatkan godaan dari lelaki lain.
16. Kalung – Ini satu-satunya cerpen karya Galuh Chrysanti. Mengisahkan tentang tentang seorang anak yang sangat sayang kepada ibunya. Si anak lelaki ini merindukan ibunya untuk shalat dan menikmati keindahan cahaya Ilahi dengan selalu dekat kepada-Nya.
17. Sakinah Bersamamu – menceritakan tentang pasangan yang telah menikah hingga maut memisahkan. Saat suaminya kembali kehadirat Ilahi, isterinya terbayang-bayang betapa suaminya telah menghiasi dan melengkapi kehidupannya. Saat masih bersama, kesalahan suami seolah menghapus segala kebaikannya. Namun ternyata ketika dia telah kembali ke sisi-Nya, si isteri menyadari betapa hari-hari indah penuh kenangan telah mereka lalui bersama.




Buku ini cukup menarik karena mampu menuangkan masalah-masalah rumah tangga yang nyata dialami oleh banyak orang secara ringan, segar, dan menggelitik. Jika sedang mengalaminya, kita pasti merasa benar-benar merasa berada dalam situasi yang sangat rumit, tetapi saat membaca cerita yang mungkin pernah kita alami tersebut, beberapa cerita akan mampu membuat kita bisa menertawakan diri sendiri, dan mampu menganalisisnya kembali secara lebih obyektif. Ini dapat kita temukan misalnya pada cerita yang berjudul Rahasia Mas Danu, Ngambek!, dan Satu Kecupan. Ada juga cerita yang mampu membuat kita berderai air mata dan menyadari bahwa segala amanah yang dikaruniakan kepada kita harus kita jaga sebaik mungkin selagi masih ada kesempatan, seperti yang dikisahkan dalam cerpen berjudul. Sejuta Kasih dan Saat Memaknai Cinta. Cerita lainnya juga sangat menarik dan mampu membuka mata hati kita melihat bahwa kita tidak sendiri menghadapi masalah-masalah dalam rumah tangga. Yang terpenting adalah belajar menjadi pasangan yang baik, orangtua yang baik dan penuh cinta, yang didasari akan kecintaan kita pada-Nya. Beberapa cerita lainnya mungkin merupakan permasalahan rumah tangga yang tidak kita alami, namun cara penyampaiannya yang penuh humor, menjadikannya hiburan yang memperkaya rasa syukur.



Permasalahan di dalam rumah tangga setiap pasangan tentunya berbeda, namun membaca beberapa di antaranya yang ada dalam buku ini, akan membuat kita merasa bahwa semua masalah dalam rumah tangga sebenarnya dan seharusnya pasti ada solusinya yang akan membuat hidup kita insyAllah menjadi lebih baik, lebih bahagia, dan lebih bersyukur. Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna, tapi menerima pasangan kita dengan sempurna (demikian seperti diucapkan oleh Asma Nadia di bagian sampul buku ini).

Tuesday, April 26, 2011

Bilamanakah Hasad (dengki) itu Diperbolehkan?

Hasad adalah salah satu sifat yang tercela. Bagaimana tidak? Secara bahasa saja, hasad berarti dengki, cemburu (yang disertai niat jahat). Adapun secara istilah, Ulama berbeda-beda dalam mendefinisikannya. Namun inti ungkapan mereka, hasad adalah sikap benci dan tidak senang terhadap apa yang dilihatnya berupa baiknya keadaan orang yang tidak disukainya. (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah rahimahullahu, 10/111). Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat dari yang memperolehnya, baik itu nikmat dalam agama ataupun dalam perkara dunia.” (Riyadhush Shalihin, Bab Tahrimil Hasad, no. 270).

Sifat ini adalah salah satu sifat yang “menyerang” hati atau bisa juga disebut penyakit hati. Yang mana penyakit ini bisa menyebabkan kecemasan, kegelisahan, ke-tidak-tenang-an bagi penderitanya. Dan juga bisa menumbuhkan buruk sangka yang pada akhirnya dapat merusak hubungan antar sesama manusia. Naudzu billahi min dzalik…Kita berlindung pada Allah dari sifat yang demikian.

وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. an Nisa’: 32)

Akan tetapi, apakah benar dalam suatu kondisi tertentu sifat hasad ini diperbolehkan? Kalau memang benar, dalam kondisi seperti apakah itu?

Tidak perlu bingung dan ragu, Allah telah membekali kita Al Qur’an dan As Sunnah sebagai pedoman hidup bagi kita. Yuuk…mari kita intip di sana.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Ibnu Umar r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, "Tidak boleh seseorang iri terhadap orang lain kecuali dalam dua hal yaitu seseorang yang diberi pengertian Al Qur'an lalu ia mempergunakannya sebagai pedoman amalnya siang-malam dan seseorang yang diberi oleh Allah kekayaan harta lalu ia membelanjakannya siang-malam untuk segala amal kebaikan." 

Dari hadits tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa hasad (iri) itu tidak diperbolehkan, KECUALI :

1. Iri terhadap seseorang yang memahami Al Qur’an dan kemudian mengamalkannya dalam keseharian, dan

2. Iri terhadap seseorang yang diberikan kekayaan oleh Allah dan ia belanjakan untuk amal kebajikan.

Tentunya, iri dalam kedua kondisi tersebut adalah dalam rangka untuk memotivasi diri untuk BISA melakukan hal (kebajikan) yang sama atau lebih baik atau ber-fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebajikan), BUKAN dalam rangka untuk menimbulkan kebencian atau kedengkian terhadap orang lain. (ER)

Wallohu a’lam bish showab

(disarikan dari berbagai sumber)