Wednesday, March 9, 2011

Resensi Buku : 10 Bersaudara Bintang Al Qur'an

Bismillahirrahamanirrahim,
Saudari-saudariku yang dirahmati Allah, masih bingung buku apa yang mau dibaca saat ini? Ada sebuah buku yang cocok untuk jadi bacaan kita semua. Mulai dari para orang tua, calon orang tua, guru/pendidik, pecinta anak, atau siapa pun yang ingin melahirkan anak-anak yang sholeh-sholehah.

Judul : 10 Bersaudara Bintang Al Qur’an
Penulis : Izzatul Jannah – Irfan Hidayatullah
Penerbit : Sygma Publishing - Bandung
Tahun : 2009
Jumlah halaman : xiv + 150 halaman

Buku ini memang bukan buku baru, tetapi insya Allah akan bisa menjadi inspirasi dan motivasi baru bagi kita yang membacanya.


Buku ini menuturkan kisah nyata dari pasangan Mutamimul ‘Ula (Pak Tamim) dan Wirianingsih (Bu Wiwi) dalam membesarkan putra-putrinya menjadi hafiz Al Qur’an dan berprestasi.

Pada bagian pendahuluan, penulis menyampaikan fakta Ke-Maha-Agung-an Allah dalam menjaga kemurnian Al Qur’an sampai akhir zaman, pembagian Al Qur’an, Al Qur’an sebagai mukjizat, sejarah turunnya Al Qur’an, kodifikasi Al qur’an dan sejarah pemeliharaan kemurnian Al Qur’an. Dengan penjelasan ini, insya Allah akan semakin mengenalkan kita pada Al Qur’an, menguatkan pemahaman kita akan keutamaannya dan menumbuhkan motivasi kita untuk menjadi serta melahirkan hafidz (penjaga) Al Qur’an. Firman Allah, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya Kami pula yang memeliharanya.” (QS Al Hijr (15) : 9).

Pak Tamim dan bu Wiwi sebenarnya bukanlah pasangan yang memiliki hafalan Al Qur’an luar biasa. Mereka baru menghafal beberapa juz saja. Bagaimana mereka bisa mendidik putra-putrinya untuk menghafalkan Al Qur’an? Jawabannya adalah adanya keyakinan yang kuat dan kecintaan mereka untuk kembali kepada Al Qur’an yang mendasari pasangan ini untuk membuat anak-anaknya menjadi penghafal Al Qur’an. Aktifitas dakwah dalam kehidupan perkawinan mereka juga menjadi salah satu hal yang mengilhami Pak Tamim untuk membawa keluarganya sebagai keluarga Qur’ani. Beliau ingin semua putranya menjadi para penghafal Al Qur’an yang tidak hanya cerdas secara ukhrawi, tetapi juga cerdas secara duniawi.

Bu Wiwi sendiri lahir di lingkungan keluarga cukup tekun beragama. Beliau belajar banyak dari kedua orang tuanya yang dengan tekun dan disiplin dalam mengajarkan Islam kepadanya. Di saat mudanya pun, beliau sudah berani tampil beda, dengan jilbab rapinya dan aktif di organisasi ke-Islam-an. Adapun Pak Tamim, beliau dilahirkan di tengah keluarga yang aktivis pergerakan Masyumi. Sejak duduk di bangku SMP, beliau aktif dalam organisasi, dan hampir selalu menjadi pemimpin dalam organisasinya, hingga kemudian menjadi salah satu motor penggerak Partai Keadilan. Kini, beliau mendapat amanah sebagai legislator Dewan Pimpinan Rakyat Republik Indonesia.

Pasangan aktivis dakwah yang super sibuk ini -Bu Wiwi yang menjadi Ketua Salimah (sebuah organisasi muslimah yang tersebar di 29 propinsi), staf departemen kaderisasi DPP PKS, Ketua Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia, dan Presidium BMOIWI. Pak Tamim menjadi legislator DPR RI- , tidak lalai akan tanggung jawab mereka yang utama, yaitu mendidik keluarga. Mereka berprinsip bahwa pendidikan anak adalah tugas integrasi antara ayah dan ibu.

Lantas apa kunci keluarga Pak Tamim dan Bu Wiwi dalam menyiasati kesibukan dan keluarga? Keseimbangan proses. Walaupun mereka berdua sibuk, mereka telah menetapkan pola hubungan keluarga yang saling bertanggung jawab dan konsisten satu sama lain. Jadwal ruhiyah mereka selepas maghrib adalah berinteraksi dengan Al Qur’an. Jika mereka sedang jauh dari putra-putrinya, keduanya berusaha tetap berkomunikasi dengan putra-putrinya.

Menjadikan putra-putrinya seluruhnya hafal Al Qur’an adalah visi yang tertanam begitu kuat pada keluarga Pak Tamim, yang kemudian dikembangkan menjadi tahapan-tahapan misi serta rencana strategis untuk mencapainya.
“Enam tahun pertama, diawali pasangan ini dengan memberikan bekal dan motivasi kepada anak-anaknya untuk menghafal. Enam tahun kedua, mulai diciptakan lingkungan yang kondusif untuk mengembangkan fitrah Qur’ani anak-anaknya. Dan enam tahun berikutnya, diarahkan untuk mengikuti perkembangan kecenderungan ilmu
yang diminati putra-putrinya.”

Pembiasaan dan manajemen waktu juga menjadi kunci sukses cita-cita besar ini. Seperti Bu Wiwi yang secara intensif dan istiqamah mengagendakan interaksi dengan Al Qur’an bagi putra-putrinya setiap ba’da subuh dan ba’da maghrib. Pak Tamim pun berusaha mengkomunikasikan tujuan pendidikan keluarganya dengan menyampaikannya secara langsung kepada putra-putrinya. Hal ini pun bisa menimbulkan efek psikologis yang positif bagi anak-anaknya. Metode pemberian hadiah yang biasa digunakan oleh para pendidik, juga diterapkan oleh Pak Tamim dan Bu Wiwi. Usaha pasangan suami istri ini sungguh luar biasa, dan hal ini pun diakui oleh anak-anaknya. Mereka sangat bersyukur dikaruniai kedua orang tua yang terus memotivasi mereka untuk menjadi hafiz-hafizah Qur’an.

Putra-putri Pak Tamim dan Bu Wiwi yang berjumlah 11 orang (7 anak laki-laki dan 4 anak perempuan, putri kesebelasnya telah meninggal dunia di usia 3 tahun) kini telah tumbuh menjadi hafiz-hafizah Qur’an dan memiliki prestasi di bidangnya masing-masing.
“Keyakinan bahwa saat seorang anak memiliki bacaan, hafalan dan intensitas dalam berinteraksi dengan Al Qur’an bagus, semuanya akan bagus. Artinya, prestasi duniawi pun akan bergerak mengikuti prestasi ukhrawi berupa kemampuan menghafal Al Qur’an.
Pak Tamim pun yakin bahwa Al Qur’an adalah dasar bagi segala ilmu.”

Pada akhir buku, penulis juga menambahkan uraian tentang keutamaan yang akan diraih oleh penghafal Al Qur’an, baik di dunia maupun di akhirat, dan beberapa kunci sukses menjadi penghafal Al Qur’an.

Insya Allah, dengan pemaparan yang baik oleh penulis, kita akan bisa menikmati isi buku ini. Jadi lebih lengkapnya, baca langsung di bukunya ya… Semoga Allah juga memberikan kemudahan bagi kita untuk membentuk keluarga yang berbasis Qur’ani.

Jika ingin mendengarkan ceramah ibu Wiwi tentang tema ini, dapat mendengarkannya melalui siaran ulang di radio pengajian.

Wallohu a’lam bish showab

No comments:

Post a Comment